Kamis, 05 Juli 2012

Remaja yang Tidak Populer Cenderung Sakit-sakitan Saat Tua

Masa-masa di sekolah konon adalah masa paling indah. Tapi bagi siswa remaja yang tidak populer mungkin sebaliknya. Sering dikucilkan dan dibully di sekolah tidak hanya menyedihkan, tetapi juga berisiko terserang penyakit di kemudian hari. Sebuah penelitian menemukan bahwa remaja yang dikuculkan di sekolah berisiko mengalami berbagai penyakit ketika paruh baya.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang terisolasi secara sosial di usia remaja lebih mungkin menderita gangguan kesehatan ketika masuk usia 40-an tahun. Kecenderungan ini paling kentara pada wanita yang dipelajari dalam penelitian. Efek ini nampaknya tidak terbatas pada remaja yang ditindas di sekolah saja, melainkan siapapun yang dikucilkan secara sosial.

Untuk sampai pada kesimpulan ini, para peneliti di Swedia menganalisis data dari sebuah penelitian yang melacak kondisi kesehatan dan kebiasaan 900 orang yang berusia 16 tahun selama 27 tahun. Para guru juga diminta menilai karakter siswa yang diteliti, sifat ekstrovert atau introvert-nya serta popularitasnya. Pada usia 43 tahun, para peserta menjalani serangkaian tes medis.

Hasilnya, siswa yang tidak populer di sekolah cenderung memiliki obesitas, tekanan darah tinggi, diabetes, lemak darah yang buruk dan kadar kolesterol 'baik' yang rendah. Berbagai masalah ini dikenal dengan sindrom metabolik dan sangat berisiko memicu serangan jantung serta stroke.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLoS ONE ini juga menunjukkan bahwa semakin tidak populer seorang siswa di usia remaja, semakin besar kemungkinannya menderita sindrom metabolik pada usia paruh baya.

"Efeknya terutama terlihat di kalangan anak perempuan. Gadis remaja yang paling tidak populer dan tertutup ketika berusia 16 tahun memiliki risiko 3 kali lipat berada dalam kondisi buruk ketika berusia 43 tahun," kata peneliti seperti dilansir DailyMail, Jumat (29/6/2012).

Para peneliti dari Universitas Umea mengatakan bahwa temuan ini terlepas dari kondisi remaja yang sudah sakit-sakitan sejak berusia 16 tahun. Menurut para peneliti, penelitian ini adalah yang pertama kalinya menunjukkan bahwa kondisi mental saat sekolah memiliki dampak jangka panjang.

Berbagai faktor diduga bisa menyebabkan efek ini. Misalnya, kesepian meningkatkan kadar hormon kortisol dan dapat mendorong tekanan darah ke taraf yang berbahaya sehingga memicu serangan jantung dan stroke. Tingginya kadar kortisol juga dapat menekan sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan kerentanan seseorang terserang penyakit.

Remaja yang kesepian juga lebih gelisah saat tidur, merasa lesu di siang hari dan cenderung bergantung pada obat tidur. Mereka yang merasa tidak punya teman juga cenderung banyak makan sebagai pelarian dan kurang mempedulikan diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan pesan disini